PERINGKAT TESCA

Apa itu TeSCA ?  

TeSCA (http://tescaindonesia.org)adalah sebuah program untuk mengukur pemanfaatan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) perguruan tinggi di Indonesia melalui metode “ZEN Framework” yang mengukur beragam komponen mulai dari infrastuktur, aplikasi, sumberdaya manusia, hingga komponen kebijakan dan sebagainya.

TeSCA diinisiasi oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang bekerjasama dengan Dirjen Perguruan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (Aptikom) dan Dewan Teknologi dan Komunikasi Nasional (Detiknas).

Perjalanan TeSCA

Program TeSCA pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008.  Pada awal pendiriannya, TeSCA baru berupa pemberian label “award”. Dalam perjalanannya TeSCA yang diadakan setiap tahun, mengalami beberapa tahap penyempurnaan.  Mulai tahun 2011, TeSCA menjadi sebuah “pemeringkatan” yang tentu saja nilainya lebih tinggi dan penting bagi perguruan tinggi karena menyangkut pengakuan atas reputasi dan kualitas pembelajaran di kampus tersebut.

Secara bertahap pula, program TeSCA terus mengalami penyempurnaan hingga pada pada TeSCA 2012 pemeringkatan dikembangkan lebih lengkap berdasarkan kategori perguruan tinggi, kapasitas dan wilayah operasional perguruan tinggi tersebut.

Menyongsong tahun 2015, ASEAN Free Trade Area akan mulai dijalankan.  Bersamaan dengan itu, juga akan dijalankan kesepakata ASEAN Economic Communitty (AEC) yakni pembentukan pasar tunggal bagi kawasan ASEAN.  Konsekuensinya, semua negara ASEAN harus mampu meningkatkan kapasitas, kualitas kinerja dan infrastruktur di segala bidang, termasuk bidang pendidikan agar memiliki daya saing yang tinggi dan mampu berperan dalam AEC 2015.

Dalam rangka itu pula, TeSCA 2014 akan memperluas wilayah pengukuran untuk kampus-kampus di wilayah ASEAN.  Pada tahap awal, akan dilakukan pengukuran beberapa kampus di beberapa negara di ASEAN yang nantinya akan dijadikan sebagai benchmark untuk pelaksanaan ICT di kampus-kampus domestik.

Metode Pengukuran TIK

Pengukuran implementasi TIK dalam program TeSCA menggunakan pendekatan “ZEN Framewok”.  Metode ini tersusun atas delapan parameter, antara lain:  (1) Suprastruktur Kampus, (2) Infrastruktur Teknologi, (3) Profil Pemangku Kepentingan, (4) Ragam Pemanfaatan Aplikasi, (5) Strategi Pendidikan Nasional, (6) Dampak dan Manfaat Penerapan Teknologi, (7) Komunitas Eksternal dan (8) Adopsi trend

Dari delapan parameter tersebut, dikembangkan menjadi 39 sub parameter.  Semuanya diwujudkan menjadi 118 pertanyaan terkait pengukuran TIK kampus.  Pada TeSCA 2014, parameter, sub parameter, jumlah dan skala pertanyaan, akan disesuaikan untuk skala ASEAN.

Proses pengukuran TeSCA melalui beberapa tahap, sebagai berikut:

(1) Self Assessment

Setiap perguruan tinggi yang berpartisipasi harus mengisi sendiri kuesioner Tesca 2014.  Pengisian dilakukan secara resmi oleh pihak perguruan tinggi.  Data-data yang diisi harus sesuai dengan kondisi TIK di perguruan tinggi yang bersangkutan.

(2) Desk Audit

Kuesioner yang telah diisi oleh masing-masing kampus, selanjutnya dilakukan penilaian  dan perhitungan indeks oleh tim juri.  Dalam melakukan penilaian, tim juri akan menggunakan rujukan beberapa data lain yang tujuannya untuk melakukan verifikasi dari data-data perguruan tinggi yang diakukan secara self assessment.

Pada tahap ini akan menghasilkan pemeringkatan sementara.  Selanjutnya Tim juri memilih 20 perguruan tinggi yang perlu dilakukan kunjungan ke lokasi.

(3) Site Visit

Tahap ini adalah melakukan kunjungan kepada 20 perguruan tinggi yang telah dipilih pada tahap desk audit. Tujuan kunjungan adalah untuk melakukan verifikasi langsung ke lokasi dan bertemu dengan penanggung jawab TIK di perguruan tinggi tersebut. Kunjungan akan dilakukan oleh tim yang merupakan representasi dari tim juri.

(4) Penjurian akhir

Tim juri kembali berkumpul dan melakukan penilaian terhadap perguruan tinggi yang telah dikunjungi.  Perhitungan indeks akhir dan pemeringkatan akan dilakukan pada tahap ini.

(5) Laporan Penilaian

Laporan penilaian masing-masing perguruan tinggi peserta TeSCA 2014 akan diberikan kepada pihak perguruan tinggi yang bersangkutan.

 

Manfaat mengikuti TeSCA

Ada beberapa manfaat yang diperoleh apabila perguruan tinggi mengikuti program TeSCA, antara lain :

(1) Setiap perguruan tinggi yang berpartisipasi akan mendapatkan laporan nilai indeks pelaksanaan TIK secara total, berdasarkan indikator/parameter dan sub parameter. Selain itu nilai indeks perguruan tinggi akan dibuat peringkat dan dibandingkan dengan skor rata-rata perguruan tinggi lain secara nasional, menurut wilayah MP3EI (Jawa, Sumatera, Bali & Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, papua dan Maluku); menurut kategori perguruan tinggi (universitas, institut, politeknik, sekolah tinggi dan akademi) dan menurut jumlah mahasiswa (skala kecil, sedang, besar).

Sebagai tambahan, perguruan tinggi akan memperoleh gambaran implementasi TIK di beberapa perguruan tinggi di negara-negara ASEAN.

Dengan menerima laporan ini, setiap perguruan tinggi akan melihat paramater apa saja yang nilainya berada di bawah rata-rata, sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan.  Sebaliknya juga akan mengetahui parameter yang sudah berada di atas nilai rata-rata yang harus dipertahankan.

(2) Indikator pengukuran dan standar implementasi yang ditetapkan dalam konsep TeSCA, memungkinkan perguruan tinggi memiliki rujukan yang tepat dalam mengembangkan langkah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitasnya secara mandiri melalui pemanfaatan TIK

(3) Keberadaan TeSCA telah membantu pemerintah (melalui Dirjen Perguruan Tinggi) memiliki peta yang cukup komprehensif untuk melihat seberapa besar kesenjangan yang terjadi di setiap perguruan tinggi.  Banyak langkah yang bisa dilakukan dengan program kongkret sebagai langkah perbaikan untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Adapun posisi terakhir TESCA 2013 berada pada posisi 141 dari 551 universitas. Untuk kategori politeknik polnep berada pada peringkat 10 dari 42 politeknik yang mengikuti.

Berikut data detail peringkat dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 :